Dahlan Iskan – lahir pada tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur – adalah sebuah sosok yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan pedesaan yang serba kekurangan. Memulai karir pada tahun 1975 sebagai calon reporter di sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur. Menjadi wartawan majalah Tempo pada tahun 1976 dan memimpin surat kabar Jawa Pos sejak 1982. Hingga pada akhirnya masyarakat mengenalnya sebagai Mentri Badan Usaha Milik Negara yang menggantikan Mustafa Abubakar dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II pada tanggal 19 Oktober 2011. Ia juga merupakan Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.
Diangkatnya Dahlan Ihsan menjadi direktur utama PLN – menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta – berhasil membuat karir PLN kembali melonjak. Adanya gebrakan-gebrakan baru seperti bebas mati lampu se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan, dan rencana membangun PLTS di 100 pulai di Indonesia pada tahun 2011 yang Ia cetuskan semakin membuat bendera PLN semakin berkibar.
Kesuksesan-kesuksesan tersebut tidak lepas dari strategi knowledge management yang diusung Dahlan Ihsan.
“Knowledge management is any process or practice of creating, acquiring, capturing, sharing and using knowledge, wherever it resides, to enhance learning and performance in organizations (Scarborough et al, 1999)”
Kepiawaiannya dalam menerapkan knowledge management tersebut digunakan untuk mengubah budaya organisasi di PLN. Ia menggunakan pendekatan personalized strategy dalam mewujudkan keinginannya tersebut. Seluruh karyawan dan atasan mau meluangkan waktunya untuk duduk di satu meja dan saling bertukar pikiran – kegiatan ini dilakukan setiap tanggal 17 detiap bulannya – tentang segala pengetahuan yang telah didapat. Segala pengetahuan dan infprmasi yang didapat ini bukan hanya didapatkan dari tacit knowledge-nya sendiri, melainkan dari banyak sumber. Mulai dari surat-surat yang berisikan saran dan kritik bagi PLN, diskusi dengan para anggota perusahaan, sampai perolehan pengetahuan yang didapat dari terjun ke lapangan secara langsung untuk mengobservasi permasalahan apa yang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya di daerah-daerah yang miskin aliran listrik. Selain itu, Ia juga menerapkan pendekatan codified strategy yang sangat terlihat dalam “CEO Note”. “CEO Note” ini merupakan catatan yang akan di-posting di email perusahaan pada tiap bulan. Para karyatan bisa dengan bebas mengaksesnya di perusahaan. Catatan ini dibuat dengan tujuan agar pemikiran-pemikiran Dahlan Iskan sebagai dan seluruh karyawan terjembatani.
Ada sesuatu yang menarik dalam”CEO Note” ini yaitu selalu diakhiri dengan kalimat-kalimat yang berisi nasihat dan semangat yang memotivasi karyawannya agar terus maju. Selain itu, Dahlan Ihsan juga memiliki blog pribadi yang banyak mengungkap ke-profesionalitas-annya selama menjabat sebagai CEO, hal ini memiliki tujuan agar kinerjanya bersifat transparan dan dapat dilihat, bahkan dipantau oleh seluruh karyawannya. Strategi ini seperti menggambarkan secara jelas bahwa knowledge system yang Ia gunakan berupa groupware.
Penerapan knowledge management, pemilihan pendekatan personalized strategy dan codified strategy, serta pemilihan bijak pada groupware dalam knowledge system telah mampu menggambarkan betapa cerdasnya Dahlan Iskan dalam membangun iklim organisasi di perusahaan yang Ia pimpin, yaitu PLN. Kesuksesan PLN dan target-target ketat yang harus segera diwujudkan merupakan dampak positif yang muncul ke permukaan bahwa penerapan knowledge management ala Dahlan Iskan ini berhasil. Namun, ada sedikit yang mengganjal di perasaan Dahlan Iskan sebelum surat keputusam yang akan dibacakan pada 19 Oktober 2011 dibuat yaitu, dia harus meninggalkan sesuatu yang sangat dia cintai: PLN, demi menggantikan Mustafa Abubakar sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.
“…saya melihat dan merasakan betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu persatu wajah teman-teman PLN di seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.
Dengan pikiran yang gundah seperti itulah saya berdiri. Mengurus pembatalan terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan stempel imigrasi dan meninggalkan bandara.
Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah terlanjur jatuh cinta setengah mati kepada orang yang dulu saya benci: PLN. Tapi belum lagi saya bisa merayakan bulan madunya saya harus meninggalkannya…”
Itulah tulisan yang menggambarkan perasaan Dahlan Ihsan pada saat itu yang Ia tuangakan dalam sebuah tulisan di www.pln.co.id.
Sumber ______________________________
http://dahlaniskan.wordpress.com/profil-dahlan-iskan/
http://sosok.kompasiana.com/2011/10/17dahlan-iskan-ceo-pln-naik-pangkat-jadi-menteri-bumn/
(Source: pusheen)
(Source: enjoyingthenight)
(Source: lilishonie)

